Ketahanan Pangan Dimulai dari Desa: Lembah Sari Menyatukan Pengalaman Petani dan Energi Anak Muda
Lombok Barat- Ketika membicarakan ketahanan pangan, perhatian sering berhenti pada pertanyaan sederhana: apakah bahan pangan tersedia? Padahal, bagi sebuah desa, persoalannya jauh lebih luas. Pangan harus dapat diproduksi secara berkelanjutan, dibeli dengan harga yang masuk akal, diolah dengan baik, dan tetap tersedia ketika cuaca, harga, atau hasil panen berubah.
Gambaran itulah yang muncul dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Lembah Sari, Kecamatan Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat. Tim dari Universitas Mataram dan National University of Singapore mengajak warga melihat ketahanan pangan sebagai urusan bersama—bukan hanya pekerjaan petani dan bukan pula sekadar program pemerintah. Pengalaman petani, gagasan pemuda, dukungan pemerintah desa, akses pasar, dan teknologi perlu disatukan dalam satu rencana induk atau masterplan yang bisa dikerjakan bertahap.
Masalah pangan tidak selesai di sawah
Desa Lembah Sari memiliki potensi pertanian, tetapi juga menghadapi persoalan yang saling berkaitan. Pilihan komoditas masih terbatas. Teknologi baru dinilai berisiko atau mahal. Informasi pembeli belum merata. Sarana penyimpanan dan pengolahan hasil panen juga perlu diperkuat. Artinya, meningkatkan produksi saja belum cukup. Panen yang bertambah tetap dapat merugikan petani apabila tidak tersimpan baik atau tidak menemukan pasar.
Untuk memahami persoalan tersebut, tim melakukan wawancara mendalam terhadap sembilan responden—lima pemuda dan empat anggota masyarakat umum—kemudian melanjutkannya dengan diskusi kelompok, survei lapangan, dan observasi. Warga tidak hanya diminta menyebut masalah, tetapi juga menilai sumber daya yang tersedia, aktor yang dapat bergerak, serta tindakan yang paling realistis dilakukan terlebih dahulu.
Angka yang membuka ruang dialog
Temuan awal memperlihatkan perbedaan kesiapan antara pemuda dan masyarakat umum. Pada skala 1 sampai 5, kelompok pemuda memberi skor rata-rata 4,6 untuk keberlanjutan, 4,8 untuk diversifikasi pangan, 4,4 untuk teknologi pertanian, dan 4,6 untuk akses pasar. Pada empat tema yang sama, kelompok masyarakat umum memberi skor 3,0; 2,5; 2,0; dan 2,5.
TEMUAN UTAMA Kesenjangan terbesar muncul pada kesiapan menggunakan teknologi pertanian: 2,4 poin. Angka ini menjadi tanda bahwa pengenalan alat baru perlu disertai demonstrasi, pendampingan, dan bukti manfaat yang mudah dilihat.
Perbedaan itu tidak boleh dibaca sebagai pertentangan antara generasi muda dan warga yang lebih berpengalaman. Pemuda umumnya lebih terbuka pada sensor kelembapan, irigasi hemat air, dan pemasaran digital. Sementara itu, petani berpengalaman lebih berhati-hati karena harus mempertimbangkan biaya, risiko gagal, kesesuaian lahan, dan kepastian pembeli. Kedua pandangan sama-sama penting. Karena jumlah responden terbatas, skor tersebut juga bukan gambaran seluruh penduduk desa, melainkan alat diagnosis awal untuk membuka percakapan dan menentukan bentuk pendampingan.
Empat langkah yang disepakati
Pertama, diversifikasi pangan lokal. Desa dapat memulai demplot kecil untuk ubi jalar, kacang-kacangan, dan sayuran lokal. Warga dapat melihat hasilnya, mencoba cara budidayanya, mengolah produknya, lalu menilai peluang pasarnya sebelum memperluas usaha.
Kedua, teknologi yang menjawab kebutuhan. Teknologi tidak ditempatkan sebagai simbol kemajuan, melainkan sebagai alat pemecah masalah. Prioritasnya ialah solusi berbiaya terjangkau dan mudah dirawat, seperti konservasi tanah, pemanenan air hujan, irigasi hemat air, dan sensor kelembapan sederhana.
Ketiga, pasar dan penanganan pascapanen. Pemetaan pembeli, katalog digital, kemasan yang lebih baik, serta rencana penyimpanan dan pengolahan harus berjalan bersama. Tujuannya agar keragaman produksi tidak berubah menjadi tumpukan hasil panen tanpa pembeli.
Keempat, kepemimpinan pemuda dan belajar antargenerasi. Pemuda dapat mengelola data, promosi digital, dan uji teknologi. Petani berpengalaman tetap memegang peran penting dalam membaca kondisi lahan, kalender tanam, dan risiko budidaya. Kerja sama ini membuat inovasi lebih cepat dipahami sekaligus tetap berpijak pada pengalaman lokal.
Dimulai dari langkah kecil yang bisa diukur
Masterplan tersebut dirancang untuk dijalankan secara bertahap. Tahap awal berisi demplot, pelatihan, uji alat sederhana, dan pencatatan kondisi awal. Setelah manfaat mulai terlihat, pengguna dapat diperluas, produk diperbaiki, dan hubungan dengan pembeli diperkuat. Investasi yang lebih besar—seperti sarana pascapanen, pembiayaan, dan integrasi data—dilakukan ketika kapasitas pengelola sudah tumbuh.
Keberhasilan nantinya perlu dilihat dari hal-hal yang nyata: berapa komoditas baru yang diuji, berapa petani yang mengikuti demplot, berapa pemuda yang aktif, berapa produk yang masuk katalog, apakah ada pembeli baru, serta apakah penggunaan air dan kehilangan pascapanen dapat ditekan. Dengan cara ini, dokumen rencana tidak berhenti di meja rapat.
Pelajaran dari Lembah Sari sederhana tetapi penting: ketahanan pangan tumbuh ketika masyarakat ikut menentukan arah perubahan. Teknologi dapat membantu, tetapi kepercayaan, pendampingan, pasar, dan pembagian peranlah yang membuat perubahan bertahan. Desa tidak harus memulai dengan proyek besar. Ia dapat memulai dari satu demplot, satu alat yang berguna, satu kelompok pemuda yang aktif, dan satu kerja sama yang terus dirawat.
What's Your Reaction?

