Perkuat Ketahanan Pesisir Lombok Tengah, UB dan Unram Gelar Pengabdian Masyarakat dan Hibahkan Alat Pengukur Tinggi Gelombang Laut dan Banjir Rob di Desa Awang

Jul 28, 2026 - 13:54
 0
Perkuat Ketahanan Pesisir Lombok Tengah, UB dan Unram Gelar Pengabdian Masyarakat dan Hibahkan Alat Pengukur Tinggi Gelombang Laut dan Banjir Rob di Desa Awang
Universitas Brawijaya dalam rangkaian Pengabdian Masyarakat di Desa Awang, Lombok Tengah (foto.dok.ist)

LOMBOK TENGAH – Dalam upaya membangun ketangguhan masyarakat pesisir terhadap ancaman bencana alam, Departemen Fisika Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB) berkolaborasi dengan Departemen Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Mataram (Unram) menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Persiapan Awang, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah.

Kegiatan yang berlangsung pada 20–23 Juli 2026 ini mengusung tema "Peningkatan Kesiapsiagaan dan Kemandirian Masyarakat Pesisir Desa Awang Kabupaten Lombok Tengah melalui Pemanfaatan Teknologi Pengukur Tinggi Gelombang Laut sebagai Upaya Mitigasi Bencana".

Selain memberikan edukasi dan sosialisasi komprehensif mengenai mitigasi bencana gempa bumi, tsunami, serta banjir rob, tim gabungan ini juga menyerahkan langsung bantuan alat pengukur potensi bencana pesisir berbasis teknologi kepada warga dan pemerintah desa setempat.

Refleksi Kelam Tsunami Awang 1977

Pemilihan Desa Persiapan Awang sebagai lokasi sasaran utama pengabdian didasari oleh jejak rekam sejarah dan risiko geologis kawasan tersebut. Dr. Muwardi Sutasoma dari UB menjelaskan bahwa Teluk Awang memiliki rekam jejak bencana yang kuat dan perlu mendapat perhatian serius.

"Kawasan pesisir selatan Lombok Tengah, khususnya Teluk Awang, memiliki kerentanan geologis terhadap gempa subduksi laut, ancaman banjir rob, hingga potensi tsunami. Tragedi tsunami tahun 1977 di Awang menjadi bukti sejarah penting bahwa memori bencana dan kesiapsiagaan masyarakat harus terus dirawat," ungkap Dr. Sutasoma.

Sebagai informasi, pada 19 Agustus 1977, peristiwa gempa dahsyat dan tsunami Sumba memicu gelombang tinggi yang menyapu kawasan pemukiman nelayan di Teluk Awang, menelan korban jiwa serta merusak sarana pesisir.

Kolaborasi Strategis dan Kemandirian Masyarakat

Ketua Tim Pengabdian dari Unram, Dr. Alfina Taurida Alaydrus, menekankan pentingnya sinergi akademisi dalam mendukung keberlanjutan program kesiapsiagaan di wilayah pesisir. Menurutnya, transfer pengetahuan dan teknologi terapan merupakan kunci utama dalam membangun desa tangguh bencana.

"Sinergi antara Unram dan UB ini dirancang untuk memberikan dampak langsung dan berkelanjutan bagi warga Desa Persiapan Awang. Kami tidak hanya menghadirkan teknologi pengukur gelombang laut, tetapi juga memastikan masyarakat setempat memiliki pengetahuan dan kemandirian untuk merawat serta memanfaatkan alat tersebut secara mandiri sebagai bagian dari mitigasi berbasis komunitas," terang Dr. Alfina.

Sosialisasi Mitigasi dan Penyerahan Alat

Dalam rangkaian acara sosialisasi, dosen dan peneliti dari UB, Mayang Bunga Puspita, S.Si., M.Eng., hadir memaparkan materi mengenai pemahaman karakteristik bencana gempa bumi, tsunami, serta banjir rob. Ia menekankan pentingnya respons cepat dan pemahaman langkah evakuasi mandiri saat indikasi awal bencana muncul.

Penyerahan alat pengukur bencana berbasis teknologi ini menjadi puncak rangkaian kegiatan. Alat terapan ini dirancang untuk memantau ketinggian gelombang laut serta fluktuasi air secara riil (real-time), sehingga mampu memberikan peringatan dini (early warning) bagi warga nelayan dan pemukim pesisir Teluk Awang saat terjadi potensi kenaikan gelombang air laut maupun bencana tsunami. red/asn

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow