Tenun Muna Pa’a Dompu Tampil di IFW 2025, Dekranasda NTB Dorong Regenerasi dan Inovasi

Jun 15, 2025 - 19:43
 0
Tenun Muna Pa’a Dompu Tampil di IFW 2025, Dekranasda NTB Dorong Regenerasi dan Inovasi
Sinta M. Iqbal saat mengunjungi Galeri Safina Weavers di Desa Ranggo, Kecamatan Pajo, Dompu. (Foto.dok.ist)

Dompu — Tenun tradisional khas Dompu, Muna pa’a, mulai menarik perhatian publik nasional setelah tampil dalam ajang bergengsi Indonesia Fashion Week (IFW) 2025. Ketua Dekranasda Provinsi NTB, Sinta M. Iqbal, menyambut positif antusiasme tersebut dan menilai bahwa tenun Muna pa’a memiliki potensi besar untuk berkembang di industri mode tanah air.

“Tenun Muna pa’a ini punya masa depan yang sangat cerah, punya masa depan sangat baik—bahwa respon itu mereka menerima ini sebagai bentuk yang baru dan sangat diterima, dan mereka bilang ini bisa buat jadi baju pesta kalau ditambah payet, dibikin blazer, jadi dibikin jadi baju kerja juga bagus,” ungkap Sinta saat mengunjungi Galeri Safina Weavers di Desa Ranggo, Kecamatan Pajo, Kamis (12/6).

Dalam kunjungan itu, Sinta juga menekankan pentingnya regenerasi pengrajin tenun agar warisan budaya tidak terputus. Ia mengajak seluruh pelaku UMKM dan perajin untuk melibatkan generasi muda dalam proses produksi dan pelestarian.

“Saya titip untuk terus digerakkan, anak-anak generasi muda kita juga untuk terus diturunkan, jangan sampai hilang seperti yang sudah ada di beberapa tempat di NTB ini. Sudah ada beberapa motif yang hilang karena tidak ada yang meneruskan dan tidak ada yang paham. Ada gap generasi, di mana generasi ini tidak paham, bahkan tidak ngerti artinya,” jelasnya.

Usai kunjungan lapangan, Ketua Dekranasda NTB membuka kegiatan Pelatihan Tenun dan Desain bagi pelaku IKM Tenun yang dilaksanakan oleh Kementerian Perindustrian bersama Dinas Perindustrian NTB, masih bertempat di Desa Ranggo.

Melalui pelatihan tersebut, Sinta kembali mendorong perajin untuk terus berinovasi menyesuaikan dengan selera pasar yang terus berkembang, sembari tetap menjaga nilai-nilai budaya lokal yang terkandung dalam setiap helai kain tenun.

“Saya titip pesan untuk banyak berinovasi, banyak-banyak melihat apa yang sedang terjadi di seantero dunia ini. Kita tidak menghilangkan budaya kita, kita tidak menghilangkan adat kita, kita tidak menghilangkan pakem-pakem yang ada di Munapa’a ini,” ujarnya.

Ia pun menyarankan agar para perajin mulai mengeksplorasi permainan warna dan komposisi visual yang lebih berani, namun tetap menjaga ciri khas dari tenun Muna pa’a.

“Jadi saya juga menitipkan, selain motif kita jaga, signature kita, ciri khasnya juga kita jaga, tapi juga harus mulai belajar bermain dengan warna,” pungkasnya. red/asn

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow