Unram-UB Perkuat Desa Mertak dengan Teknologi Pemantauan Gempa Berbasis IoT

Sep 16, 2026 - 14:42
 0
Unram-UB Perkuat Desa Mertak dengan Teknologi Pemantauan Gempa Berbasis IoT

LOMBOK TENGAH — Upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami terus dilakukan di Desa Mertak, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah.

Salah satu langkah yang dilakukan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat kolaborasi Universitas Mataram (Unram) dan Universitas Brawijaya (UB), Selasa (21/7/2026), dengan memperkenalkan teknologi pemantauan guncangan tanah berbasis Internet of Things (IoT).

Desa Mertak merupakan salah satu wilayah pesisir selatan Lombok Tengah yang berhadapan dengan zona subduksi aktif. Kondisi geografis tersebut membuat wilayah ini memiliki potensi risiko gempa bumi dan tsunami.

Risiko tersebut menjadi semakin penting diperhatikan karena Desa Mertak juga berada di kawasan penyangga Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Karena itu, kesiapan masyarakat dalam menghadapi kondisi darurat menjadi bagian penting dalam upaya membangun desa yang tangguh terhadap bencana.

Dalam skenario pemodelan yang menjadi dasar program, tsunami akibat gempa besar di wilayah selatan Lombok diperkirakan dapat mencapai kawasan Teluk Kuta dalam waktu sekitar 12 menit 30 detik.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kecepatan masyarakat dalam menerima informasi dan mengambil tindakan penyelamatan ketika terjadi bencana.

Selama ini, masyarakat masih banyak mengandalkan informasi kebencanaan yang bersifat regional maupun penyampaian secara manual. Desa juga belum memiliki sistem pemantauan guncangan lokal yang mampu memberikan informasi secara real-time.

Melalui program pengabdian tersebut, tim memperkenalkan sistem pemantauan **Peak Ground Acceleration (PGA)** berbasis IoT. Sistem menggunakan sensor akselerometer untuk merekam getaran tanah secara kontinu pada tiga sumbu.

Data yang diperoleh selanjutnya dapat diproses melalui mikrokontroler dan dikirim menggunakan jaringan internet ke sistem penyimpanan awan sehingga dapat dipantau secara digital.

Sistem tersebut juga dirancang memiliki mekanisme peringatan otomatis. Apabila getaran yang terdeteksi melampaui ambang batas PGA yang telah ditentukan, perangkat dapat mengaktifkan sirene atau buzzer sebagai tanda peringatan.

Dengan sistem ini, informasi mengenai adanya guncangan tidak sepenuhnya bergantung pada penyampaian secara manual.

Data hasil pemantauan juga dirancang dapat ditampilkan melalui dashboard digital. Aparat desa dan Tim Siaga Bencana nantinya dapat memantau data PGA menggunakan perangkat seperti smartphone.

Selain itu, sistem dapat dikembangkan untuk mendukung pemantauan jarak jauh melalui integrasi kamera CCTV berbasis IoT.

Namun, program tersebut tidak hanya berfokus pada penerapan teknologi. Tim pengabdian juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai mitigasi dan kesiapsiagaan bencana, termasuk langkah yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah gempa.

Masyarakat diperkenalkan dengan prosedur **“Drop, Cover, and Hold On”**, yakni menjatuhkan diri, melindungi kepala dan tubuh, serta berpegangan hingga guncangan berhenti.

Edukasi tersebut menjadi bagian penting karena keberadaan sistem peringatan tidak akan optimal apabila masyarakat tidak memahami informasi dan tidak mampu meresponsnya secara tepat.

Karena itu, program juga dirancang mencakup simulasi mitigasi mandiri, evaluasi pemahaman masyarakat melalui *pre-test* dan *post-test*, serta pelatihan teknis bagi operator desa dalam pengoperasian dan perawatan perangkat.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi Tim Pengabdian Universitas Mataram dan Universitas Brawijaya. Tim Universitas Mataram dipimpin Dr. Suhayat Minardi, S.Si., M.T., dengan melibatkan dosen dan mahasiswa. Sementara Universitas Brawijaya diwakili Prof. Ir. Adi Susilo, M.Sc., Ph.D.

Program tersebut juga melibatkan perangkat Desa Mertak, masyarakat setempat, serta mahasiswa KKN Universitas Mataram yang sedang menjalankan kegiatan di desa tersebut.

Melalui kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah desa, masyarakat, dan mahasiswa, Desa Mertak diharapkan semakin siap menghadapi potensi gempa bumi dan tsunami.

Penerapan teknologi pemantauan PGA diharapkan dapat menjadi salah satu pendukung dalam mempercepat penyampaian informasi mengenai guncangan, sementara edukasi mitigasi menjadi fondasi agar masyarakat mampu mengambil tindakan penyelamatan secara cepat dan tepat.

Ke depan, sistem tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari infrastruktur kesiapsiagaan bencana di Desa Mertak. Program juga dirancang dengan pendampingan teknis, penyusunan SOP, serta penyerahan perangkat kepada pemerintah desa agar teknologi yang diterapkan tetap dapat dimanfaatkan setelah kegiatan pengabdian selesai.

Dengan demikian, program pengabdian Unram dan UB tidak berhenti pada pemasangan perangkat teknologi. Sistem tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun **Desa Mertak sebagai desa yang lebih tangguh menghadapi bencana**, dengan menggabungkan teknologi, pengetahuan, keterampila

n masyarakat, dan kesiapan kelembagaan desa.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow